Hebohnya Pilkada DKI gara-gara Ahok

Dilansir dari BBC Indonesia, pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 dengan calon termasuk Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok merupakan yang 'terheboh' dan 'terpanas' dalam sejarah, menurut pemerhati psikologi politik.

Dalam tiga hari kedepan, 21-23 September, Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka pendaftaran pasangan calon gubernur melalui jalur politik dan belum ada pasangan tetap yang menyatakan akan mendaftar.

Ahok sejauh ini didukung oleh Partai Nasdem, Golkar dan Hanura sementara Sandiaga Uno diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, PKS.

Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) mengumumkan Ahok-Djarot sebagai calon mereka pada Selasa malam (20/9).

Hamdi Muluk, pengamat psikologi politik dari Universitas Indonesia menyebut pemilihan calon gubernur DKI Jakarta sebagai 'yang paling heboh' dan 'yang paling panas' dan dipicu oleh sosok Ahok 'yang unik'.

"Belum pemilihan saja sudah panas sekali dan ini karena dipicu oleh sosok Ahok yang unik. Untuk pertama kalinya dalam peta politik ada calon dari minoritas, agama dan ras, di tempat yang sentral (Jakarta)," kata Hamdi kepada BBC Indonesia.

Pengamat psikologi politik Hamdi mengatakan, "Yang kita harapkan tenang (dalam pemilihan calon gubernur Jakarta) adalah kalau misalnya urusan menantang semangatnya bukan lagi cari lawan panggung terbaik dalam urusan kinerja, yang dikedepankan adalah sentimen agama atau ras."

"Namun ada juga (penantang) yang mencari sosok dengan elektabilitas yang berkolerasi dengan kinerja tetapi Islam dan sosok yang paling dekat adalah Risma," kata Hamdi.

Hamdi menyebut pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012, yang mengusung Joko Widodo dan Ahok sebagai ujian pertama yang berhasil.

"Pada 2012 ujian pertama lewat, Ahok sebagai wakil gubernur menang, sekarang apakah bisa melewati ujian yang lebih atas lagi, kali ini sebagai calon gubernur?" kata Hamdi.

"Kalau berhasil melewati momen Pilkada ini, rakyat memilih dengan alasan yang konstruktif berdasarkan kinerja dan sedikit pengaruh suku, agama ras, bahwa apa pun suku, agama rasnya tetap memiliki posisi yang setara, berarti demokrasi Indonesia semakin maju. Ujiannya di Pilkada DKI ini," tambahnya.

Penolakan terhadap Ahok muncul di KPU Jakarta
Massa yang menamakan diri Aliansi Gerakan Selamatkan Jakarta (GSJ) berunjuk rasa di depan Kantor KPU DKI Jakarta, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu (21/9/2016).

Mereka menggunakan pakaian berwarna hitam dan pengikat kepala berwarna merah putih sambil membentangkan spanduk bertuliskan penolakan terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Adapun Ahok telah mendaftar menjadi calon gubernur DKI ke KPU DKI Jakarta.

"Kami ingin mengawal dan menginginkan Kota Jakarta dipimpin oleh orang yang bersih," ujar salah satu orator menggunakan pengeras suara.

Massa GSJ tiba di lokasi sekitar satu jam setelah Ahok dan Djarot meninggalkan Kantor KPU DKI. Personel polisi tampak berjaga di depan Kantor KPU DKI untuk mengamankan aksi agar berlangsung damai.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Dwiyono turut serta bersama anggotanya mengamankan aksi tersebut. Beberapa orang perwakilan massa diterima dan diizinkan masuk ke dalam untuk berbicara dengan perwakilan KPU DKI.

Sumber: BBC, KOMPAS

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: